Literasi Malinau Bertumbuh dari Rak Buku Desa

Literasi Malinau Bertumbuh dari Rak Buku Desa

Malinau, Kalimantan Utara — Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, melakukan kunjungan kerja ke sejumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kabupaten Malinau pada 5–6 Februari 2026. Kunjungan ini merupakan kolaborasi antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) dan mitra pembangunan INOVASI yang bertujuan melihat secara langsung praktik-praktik baik literasi berbasis komunitas yang berkembang di daerah.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan ekosistem literasi di Kabupaten Malinau, khususnya melalui peran TBM sebagai ruang belajar alternatif di luar pendidikan formal. Dalam kunjungan ini, Kepala Badan Bahasa berdialog langsung dengan pengelola TBM, penggiat literasi, anak-anak, serta masyarakat sekitar untuk memahami dinamika, tantangan, dan dampak keberadaan TBM bagi komunitas setempat.

Hafidz Muksin menegaskan bahwa Taman Bacaan Masyarakat memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar.

“Literasi tidak selalu tumbuh dari ruang-ruang besar dan formal. Justru dari TBM seperti inilah budaya membaca, berpikir, dan belajar dapat hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujar Hafidz Muksin di sela-sela kunjungan.

 

TBM Cerdas Ceria: Ruang Tumbuh Literasi Anak di Kuala Lapang

Kunjungan pertama dilakukan di TBM Cerdas Ceria yang berlokasi di Desa Kuala Lapang, Kecamatan Malinau Barat. TBM ini dikenal aktif menggelar kegiatan membaca bersama, pendampingan literasi anak, serta berbagai aktivitas kreatif yang melibatkan penggiat literasi dan masyarakat desa.

Di lokasi ini, Hafidz Muksin menyaksikan secara langsung kegiatan literasi yang diikuti anak-anak, mulai dari membaca buku cerita, berdiskusi, hingga aktivitas pendampingan membaca. Ia mengapresiasi peran pengelola dan relawan TBM yang secara konsisten mendampingi anak-anak dalam membangun kebiasaan membaca.

“Taman Bacaan Masyarakat seperti TBM Cerdas Ceria menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang digerakkan oleh komunitas. Ketika anak-anak diberi akses bacaan dan pendampingan yang tepat, literasi tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepercayaan diri mereka,” kata Hafidz Muksin.

Menurutnya, keberadaan TBM di desa menjadi jembatan penting dalam mendekatkan buku dan kegiatan literasi kepada anak-anak sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung pendidikan. Ia menilai praktik literasi yang dijalankan TBM Cerdas Ceria layak menjadi contoh bagi pengembangan TBM di wilayah lain.

 

TBM Cinta Pelita: Literasi Berbasis Keluarga dan Komunitas

Kunjungan dilanjutkan ke TBM Cinta Pelita yang berada di Desa Pelita Kanaan, Kecamatan Malinau Barat. TBM ini berkembang sebagai ruang literasi yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar dalam berbagai kegiatan membaca dan belajar bersama.

Di TBM Cinta Pelita, Kepala Badan Bahasa berdialog dengan pengelola dan penggiat literasi mengenai strategi pelibatan masyarakat dalam kegiatan literasi. Beragam aktivitas, seperti membaca bersama, diskusi buku, dan pendampingan belajar, menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan literasi di tingkat keluarga.

“TBM Cinta Pelita memperlihatkan praktik baik literasi berbasis komunitas yang melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar. Inisiatif seperti ini penting untuk membangun budaya literasi yang berkelanjutan karena literasi akan kuat jika tumbuh dari kebiasaan sehari-hari masyarakat,” ujar Hafidz Muksin.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan keluarga dalam kegiatan literasi menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak-anak. Menurutnya, TBM dapat berperan sebagai pusat kegiatan literasi sekaligus ruang interaksi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat.

 

Kolaborasi untuk Penguatan Literasi Daerah

Kunjungan ke TBM Cerdas Ceria dan TBM Cinta Pelita ini menjadi bagian dari upaya Badan Bahasa bersama mitra pembangunan INOVASI untuk melihat langsung dampak program dan praktik baik literasi di Kabupaten Malinau. TBM dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran informal yang mendukung peningkatan kecakapan literasi masyarakat.

Melalui kunjungan ini, Badan Bahasa berharap praktik-praktik baik yang telah berkembang di Malinau dapat terus diperkuat dan direplikasi di wilayah lain. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, dan mitra pembangunan menjadi kunci dalam membangun ekosistem literasi.

Dari Kuala Lapang hingga Pelita Kanaan, TBM di Malinau membuktikan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang dikelola bersama. Upaya kecil yang konsisten inilah yang menjadi denyut awal perubahan di tingkat akar rumput. (Mun)




Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa