Bedah Buku Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia Soroti Peran Indonesia dan Bahasa sebagai Penopang Peradaban Global
Jakarta,
19 Desember 2025 — Perpustakaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
menyelenggarakan kegiatan bedah buku berjudul Apa Jadinya Dunia Tanpa
Indonesia karya Yudi Latif di Aula Sasadu, Gedung Tabrani, Jakarta. Forum
ini digelar sebagai ruang silaturahmi akademik sekaligus wadah refleksi untuk
memperkuat pemahaman masyarakat mengenai posisi strategis Indonesia dan Bahasa
Indonesia dalam lanskap peradaban global. Acara berlangsung khidmat dengan
mengupas tuntas kontribusi bangsa terhadap dunia melalui diskusi interaktif
yang diharapkan mampu membangkitkan kesadaran nasionalisme di tengah dinamika
Internasional.
Kegiatan
yang dimoderatori oleh Ferdiansyah dari Kementerian Koordinator Bidang
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini menghadirkan sejumlah
pembedah buku, yaitu Amrin Saragih, Liliana Mulyastuti, dan Muh. Abdul Khak.
Dalam pengantarnya, Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iwa Lukmana, menyoroti posisi Indonesia dalam Global Soft Power Index yang saat ini berada di peringkat ke-45, masih di bawah beberapa negara ASEAN lainnya. Ia menyebut Indonesia kerap dipersepsikan sebagai “invisible giant”, negara besar yang perannya belum sepenuhnya terlihat dan dikenali dunia Internasional. Selain itu, menurutnya hasil eksperimen sosial di luar negeri menunjukkan bahwa masyarakat dunia jauh lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia secara utuh sebagai sebuah negara. “Ini menjadi tugas kita bersama untuk mengangkat peringkat Indonesia agar tidak terus tertahan di posisi 45 dan kita berharap angka ini bisa terus naik di masa depan,” ujarnya.
Strategi “Gerilya” Bahasa
Dalam menanggapi tantangan tersebut, Badan Bahasa terus
berupaya memperkuat posisi Indonesia melalui program Bahasa Indonesia bagi
Penutur Asing (BIPA). Berbeda dengan negara-negara seperti Tiongkok, Jepang,
atau Korea Selatan yang melakukan penyebaran bahasa secara masif dan frontal
karena sudah memiliki soft power yang kuat, Indonesia memilih pendekatan
yang lebih taktis.
“Karena kita belum banyak dikenal secara luas seperti
negara-negara di peringkat atas, kita melakukan penyebaran bahasa Indonesia
secara gerilya, layaknya masa perjuangan dulu,” jelas Iwa.
“Kita mungkin menyebarkan bahasa Indonesia secara gerilya karena negara kita belum banyak dikenal secara luas. Namun, strategi gerilya ini telah membuahkan hasil dengan diajarkannya bahasa Indonesia di 59 negara hingga saat ini,” tambahnya.
Dinamika Global dan Harapan ke Depan
Meskipun menghadapi dinamika naik-turunnya minat pemelajar seperti penurunan drastis yang terjadi di Australia. Minat belajar bahasa Indonesia di mayoritas negara lain justru menunjukkan tren peningkatan. Penyebaran bahasa melalui jalur pendidikan ini diharapkan tidak hanya sekadar mengajarkan kosakata, tetapi juga membangun reputasi dan pengaruh Indonesia di mata Internasionalisasi. Dengan meningkatknya jumlah penutur asing, Indonesia diharapkan dapat melepaskan predikat “raksasa tak terlihat” dan secara bertahap memperbaiki posisinya dalam indeks kekuatan pengaruh global di masa depan.
Indonesia sebagai Penopang Dunia
Dalam paparannya, Yudi Latif menjelaskan bahwa buku Apa
Jadinya Dunia Tanpa Indonesia terdiri atas 22 bagian yang menguraikan
kontribusi Indonesia dari aspek geologi, geografi, keanekaragaman hayati,
hingga peradaban. Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan powerhouse
dunia yang perannya kerap luput dari perhatian global.
Yudi Latif menegaskan bahwa buku ini merupakan sebuah
tawaran refleksi mendalam mengenai posisi sentral dan makna eksistensi
Indonesia dalam sejarah dunia. Ia memaparkan fakta historis bahwa kekayaan
Nusantara di masa kolonial telah menjadi pendukung utama bagi era pencerahan (Aufklärung)
di Eropa, mulai dari pendanaan riset di Universitas Leiden hingga penggerak
roda Revolusi Industri di Inggris.
Menurutnya, tiga dari empat letusan gunung berapi
terdahsyat dalam sejarah Dunia, Toba, Tambora, dan Krakatau, terjadi di
Indonesia dan berdampak signifikan terhadap iklim serta populasi manusia secara
global. Selain itu, Indonesia juga menjadi pusat Coral Triangle dan
memiliki Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang berperan penting sebagai
regulator iklim dunia.
Dari sisi historis, Yudi Latif mengungkapkan bahwa
kekayaan Nusantara pada masa lampau turut mendanai kebangkitan Eropa, termasuk
pengembangan ilmu pengetahuan dan berdirinya universitas-universitas besar
seperti Leiden yang kemudian melahirkan pemikiran liberal dan revolusi
industri.
Ia juga menyoroti Bab 22 buku tersebut yang membahas bahasa Indonesia sebagai penutup sekaligus peringkas identitas nasional. Bahasa Indonesia dinilainya unik karena lahir dari konsensus dan negosiasi perdagangan, bukan dari dominasi etnis tertentu maupun warisan kolonial.
Bahasa Indonesia sebagai Instrumen Peradaban
Pandangan tersebut diperkaya oleh pemikiran Liliana
Mulyastuti. Ia menyatakan bahwa Bahasa Indonesia merupakan sebuah mukjizat
karena telah menjadi bahasa persatuan bahkan sebelum negara Indonesia berdiri.
Dari perspektif pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), ia
menilai bahasa ini relatif mudah dipelajari oleh penutur asing. “Bahasa
Indonesia lahir dari konsensus budaya, bukan dari dominasi etnis mayoritas
maupun warisan kolonial, sehingga relevan secara global sebagai model untuk
mengatasi konflik identitas,” ujarnya.
Sementara itu, Amrin Saragih memetaforakan bahasa
Indonesia sebagai “beringin penaung” yang menaungi keberagaman bangsa melalui
kesederhanaannya. Ia juga menyoroti penggunaan kata ganti ia oleh
penulis sebagai bentuk personifikasi bahasa yang mencerminkan sikap ramah dan
rendah hati. Selain itu, Amrin mencontohkan perlunya pembaruan istilah dalam bahasa
Indonesia, seperti penggunaan frasa menumbuhkan padi sebagai pengganti menanam
padi, guna menyesuaikan perkembangan bahasa dengan kemajuan teknologi
pertanian, termasuk hidroponik.
Adapun Muh. Abdul Khak menegaskan bahwa kekuatan utama bahasa Indonesia terletak pada fungsinya sebagai alat negosiasi intelektual. Ia menilai kemajuan suatu peradaban dapat tecermin dari kekayaan lema atau entri dalam kamus bahasanya. “Karena itu, proses pengayaan KBBI melalui penyerapan bahasa daerah di seluruh provinsi merupakan bentuk ‘pemaksaan’ yang positif agar bahasa nasional memiliki cita rasa Nusantara yang luas,” tuturnya.
Tantangan dan Harapan
Dalam sesi tanya jawab, Yudi Latif menjelaskan bahwa
kurangnya pengakuan dunia terhadap peradaban Indonesia disebabkan oleh dua
faktor utama. Secara internal, tradisi penulisan di Indonesia masih relatif
rendah sehingga banyak jejak peradaban tidak terdokumentasi dengan baik. Secara
eksternal, historiografi global lama didominasi oleh Barat yang kerap memandang
wilayah Timur sebagai bagian dari India atau Cina.
Ketika menjawab pertanyaan mengenai peran guru, Yudi menekankan pentingnya mengenalkan negeri sendiri kepada peserta didik agar tumbuh rasa cinta dan kebanggaan. Ia menyebutkan bahwa gaya penulisan buku ini sengaja dibuat naratif-deskriptif agar mudah dipahami oleh generasi muda, termasuk pelajar tingkat SMP.
Rekomendasi Strategis
Kegiatan bedah buku ini menghasilkan sejumlah rekomendasi
strategis, antara lain penguatan regulasi kemahiran bahasa Indonesia bagi
tenaga kerja asing sebagai instrumen perlindungan dan politik bahasa. Selain
itu, Badan Bahasa perlu mengembangkan bahan ajar berbasis literasi visual agar
generasi muda lebih mudah mengenali kekayaan nasional melalui bahasa.
Kegiatan ini juga mendorong peningkatan kepercayaan diri
akademik dalam menggunakan bahasa Indonesia di forum dan jurnal ilmiah
Internasional serta penguatan riset asal-usul bahasa Melayu dan pusat-pusat
peradaban awal seperti Barus.
Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa menegaskan kembali
bahwa Indonesia bukan sekadar sebuah negara, melainkan peradaban besar yang
menopang dunia, sementara bahasa Indonesia merupakan instrumen pemersatu yang
visioner dan relevan dalam menghadapi tantangan global. (Vira)
.jpeg)
.jpeg)
3.jpeg)