Kemendikdasmen Gelar Uji Keterbacaan Buku Bacaan Literasi 2025 di Jakarta

Kemendikdasmen Gelar Uji Keterbacaan Buku Bacaan Literasi 2025 di Jakarta

Jakarta — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), menyelenggarakan Uji Keterbacaan Buku Bacaan Literasi Tahun 2025 di Provinsi DKI Jakarta pada Rabu—Kamis (26—27/11). Kegiatan ini merupakan tahapan krusial dalam penyediaan buku bacaan yang akan digunakan dalam Gerakan Literasi Nasional.

Penyelenggaraan uji keterbacaan ini bertujuan untuk memastikan buku-buku literasi yang disusun sesuai dengan tingkat kemampuan, minat, serta kebutuhan peserta didik. Selama ini, sebagian buku bacaan dinilai belum melalui proses uji keterbacaan yang memadai sehingga aspek bahasa, isi, dan penyajiannya belum sepenuhnya optimal dalam mendukung pengembangan literasi.

Kegiatan ini melibatkan 400 peserta, yang terdiri atas 200 siswa SD (kelas 4—6) dan SMP (kelas 7), serta 200 pendamping. Para peserta berperan memberikan masukan langsung terhadap buku-buku yang tengah disiapkan oleh Badan Bahasa.

Kepala Bidang Peningkatan dan Penguatan Literasi, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Hidayat Widiyanto, menegaskan bahwa uji keterbacaan adalah penentu akhir kualitas buku sebelum disebarluaskan kepada masyarakat.

“Hari ini kita melakukan uji keterbacaan buku bacaan literasi tahun 2025. Kegiatan ini adalah satu tahapan bagi pendamping dan anak-anak untuk memberikan masukan kepada kami sebelum buku-buku literasi itu disampaikan kepada masyarakat,” ujar Hidayat.

Ia menambahkan bahwa masyarakat dapat mengakses koleksi buku dalam bentuk audio, video, atau digital melalui laman budi.kemdikdasmen.go.id. Namun, khusus untuk buku tahun 2025, pihak kementerian sengaja belum mengunggahnya demi mendapatkan validasi dari siswa sebagai pengguna langsung.

“Apakah mereka familier, dekat, dan senang dengan buku itu? Kalau belum, berikan masukan agar buku ini menjadi lebih baik. Oleh karena itu, bersenang-senanglah hari ini untuk membaca buku,” tambahnya.

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Salikun, menekankan bahwa budaya literasi adalah fondasi utama dalam dunia pendidikan. Menurutnya, literasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kegiatan membaca dan menulis semata.

“Dalam rangka membangun budaya literasi, kita memahami bahwa literasi adalah fondasi dari proses pendidikan. Selama ini, literasi sering dimaknai sebatas membaca dan menulis, padahal literasi adalah dasar untuk mempelajari semua mata pelajaran,” tutur Salikun.

Salikun juga memberikan perumpamaan mengenai pentingnya kebiasaan membaca bagi siswa. “Membaca itu seperti sikat gigi. Kalau sehari tidak dilakukan, rasanya tidak enak. Maka tugas kita adalah membudayakan literasi di kalangan peserta didik,” ungkapnya sembari mengapresiasi kolaborasi dengan Badan Bahasa.

Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa berharap dapat menyempurnakan isi dan penyajian buku agar sesuai dengan karakteristik peserta didik jenjang B3 dan C. Langkah ini menjadi komitmen berkelanjutan pemerintah dalam menyediakan bahan bacaan berkualitas guna menumbuhkan generasi literat di Indonesia.

Dokumentasi


Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa