Badan Bahasa Tegaskan Pentingnya Orisinalitas Karya di Era Akal Imitasi
Jakarta – Festival Kata 2025 diselenggarakan oleh Harian Kompas dan Kompas.id dengan tema “Menguatkan dan Menyembuhkan melalui Kata”. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra 2025 yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (18/10).
Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menegaskan pentingnya
kejujuran dan orisinalitas dalam proses kreatif di tengah perkembangan
kecerdasan buatan atau akal imitasi (artificial intelligence atau AI)
yang makin pesat. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah,
dalam diskusi bertajuk “Sikap Kelembagaan
terhadap Akal Imitasi dalam Sastra dan Upaya Penguatan Orisinalitas Karya”.
Dalam
diskusi tersebut, Ganjar menjelaskan bahwa kemunculan AI merupakan keniscayaan
yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, pertemuan antara komputer dan internet
telah merevolusi kehidupan manusia jauh lebih cepat, “AI tidak dapat dihindari,
tetapi juga tidak boleh menggantikan peran manusia dalam mencipta. Tantangan
kita adalah menempatkannya secara proporsional dan menjaganya agar tetap
menjadi alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia,” ujarnya.
Lebih
lanjut, Ganjar menyebutkan bahwa Badan Bahasa memanfaatkan teknologi secara
bijak, antara lain melalui penggunaan aplikasi Sipebi untuk pengecekan ejaan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa nilai kejujuran dan orisinalitas tetap
menjadi fondasi utama dalam dunia penulisan. “Kami memanfaatkan AI dalam fungsi
terbatas, seperti pengecekan ejaan. Namun, orisinalitas dan kejujuran harus
tetap dijaga. Jangan sampai teknologi justru mengikis integritas penulis,”
tambahnya.
Sementara
itu, Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Saras Dewi, mengajak peserta
untuk merefleksikan secara filosofis apakah AI benar-benar berpikir atau
sekadar meniru pola manusia. Ia menilai bahwa kecerdasan buatan tidak memiliki
kesadaran seperti manusia, melainkan sekadar meniru pola yang telah ada. “AI
tidak memiliki kesadaran atau akal budi. Ia hanya meniru. Namun, karena
kecanggihannya, banyak yang keliru menganggap hasil kerja mesin sebagai karya
manusia. Di sinilah kita perlu bersikap kritis dan etis,” jelasnya.
Saras
juga menegaskan bahwa teknologi tidak pernah bersifat netral karena selalu
berada dalam konteks kepentingan ekonomi dan politik. “AI harus kita lihat
sebagai alat, bukan penguasa. Kita harus sadar bahwa di balik teknologi ada
kepentingan industri, konsumsi energi besar, dan dampak lingkungan yang nyata,”
tegasnya.
Dari
sisi media, Hilmi
Faiq, Kepala Desk Budaya Harian Kompas, menyoroti
tantangan autentisitas karya di tengah maraknya penggunaan AI dalam penulisan
sastra. Menurutnya, redaksi Kompas kini makin berhati-hati dalam melakukan
kurasi karya sastra. “AI sudah mampu menulis dengan gaya puitis dan emosional.
Namun, kami di redaksi tetap menjunjung sikap skeptis. Jika ada keraguan
terhadap keaslian naskah, karya itu tidak kami muat,” ungkapnya.
Hilmi
menilai bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu kreatif, bukan
pengganti daya cipta. “AI
bisa menjadi teman berdiskusi, alat untuk mencari variasi diksi atau metafora.
Tapi, penulis tetaplah subjek utama. Jangan sampai kita menjadi budak dari alat
yang kita ciptakan sendiri,” ujarnya.
Ia
menambahkan bahwa dunia jurnalisme perlu bersikap adaptif terhadap perkembangan
teknologi, tanpa meninggalkan prinsip etika dan tanggung jawab intelektual. “Alih-alih
menjadi lawan, jurnalisme sebaiknya bersahabat dengan akal imitasi. Kita perlu
memahami pergeseran perilaku pembaca yang kini lebih akrab dengan gawai,”
pungkasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Badan Bahasa bersama para pelaku sastra dan akademisi meneguhkan komitmen untuk menjaga orisinalitas, integritas, dan kejujuran dalam proses kreatif di era digital. “Teknologi boleh maju, tetapi nilai kemanusiaan harus tetap menjadi pusatnya,” tutup Dr. Ganjar Harimansyah.

