Menyoal Entri “Sawit” di KBBI
Jakarta, 4 Januari
2026—Menanggapi
perhatian dan diskusi publik tentang definisi entri “sawit” dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
(Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa)
menyampaikan penjelasan agar masyarakat memperoleh konteks yang utuh dan lebih
memahami cara kerja kamus.
KBBI merupakan kamus historis dan
deskriptif. “Historis” bermakna KBBI merekam perjalanan pemakaian kata dari
masa ke masa, sedangkan “deskriptif” berarti KBBI menggambarkan bagaimana kata
dipakai di masyarakat berdasarkan bukti penggunaan bahasa.
Penataan entri
“sawit”
Dalam dunia perkamusan, ada istilah
entri yang merujuk pada kata kepala beserta definisinya. Ada juga istilah rujuk
silang, yakni penunjuk yang mengarahkan pembaca ke entri lain yang memuat
penjelasan lebih lengkap. Mekanisme ini dipakai agar pembaca tetap mudah
menemukan informasi, sekaligus menjaga susunan kamus mudah telusur dan
konsisten.
Entri “sawit” tercatat sejak KBBI
Edisi I (1988) dan terus berkembang hingga KBBI Edisi VI (2023).
Dalam perjalanannya, istilah tersebut pernah muncul pada dua posisi: sebagai
gabungan kata “kelapa sawit” dan sebagai entri induk “sawit”. Pada KBBI
Edisi I dan II, kedua bentuk tersebut sama-sama diberi definisi.
Pada KBBI Edisi III sampai V, definisi berada pada “kelapa
sawit”, sedangkan entri “sawit” diarahkan melalui rujuk silang.
Pada KBBI Edisi VI (2023),
definisi dipindahkan ke entri “sawit” dan “kelapa sawit” dipertahankan sebagai
rujuk silang. Perubahan itu merupakan penataan letak penjelasan, bukan
perubahan makna. Penataan tersebut dilakukan setelah adanya masukan dari
masyarakat, dengan pertimbangan bahwa “sawit” lebih tepat dijadikan entri induk
karena sawit bukan jenis kelapa. Bentuk “kelapa sawit” tetap dicantumkan karena
istilah itu telah mengakar dalam pemakaian sehari-hari dan masih sering dicari
oleh pengguna kamus.
Alasan penggunaan
genus “pohon” dalam definisi
Dalam leksikografi, definisi sering
dibangun dengan pola genus proximus (kategori umum) lalu diikuti differentia
specifica (ciri pembeda). Genus berfungsi membantu pembaca segera
menangkap kategori umum dari suatu objek, sebelum memahami ciri yang lebih
khusus. Genus berada di awal definisi, baru kemudian diikuti ciri pembedanya.
Genus dalam leksikografi tidak selalu sama dengan genus dalam biologi.
Sejak KBBI Edisi IV (2008)
sampai KBBI Edisi VI (2023), definisi “sawit” menggunakan genus
“pohon”. Penggunaan genus ini terkonfirmasi pada rapat pemutakhiran KBBI bulan
September tahun 2022 dan bulan Juli tahun 2023 oleh empat pakar botani dan
taksonomi botani dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam rapat yang
membahas perbaikan entri botani itu disepakati penggunaan empat genus untuk
mengganti genus tumbuhan dan tanaman yang sebelumnya digunakan, yaitu liana (tumbuhan
merambat berkayu), pohon (tumbuhan tegak berkayu), terna (tumbuhan
merambat atau tegak tidak berkayu), dan perdu (tumbuhan berumpun). Dari
keempat genus tersebut, sawit lebih dekat ke pohon daripada ke tiga genus
lainnya. Pertimbangan tersebut berangkat dari kebutuhan kamus umum: definisi
harus akurat dan tetap komunikatif bagi pembaca luas.
Penggunaan genus pohon untuk sawit dalam kamus juga dilakukan oleh kamus-kamus dunia, seperti Oxford English Dictionary (OED), dan juga rujukan internasional lain, seperti Britannica dan Plants of The World Online sebagai berikut.
oil palm n
a palm tree that bears
oil-yielding fruit or seed; spec. (a) (more fully African oil palm)
Elaeis guineensis, the chief source of palm oil, native to West Africa but
widely cultivated in tropical regions; (b) (more fully American oil palm)
E. oleifera of tropical America.
(OED)
oil
palm, (Elaeis guineensis), African tree
in the palm family (Arecaceae), cultivated
as a source of oil. The oil palm is grown extensively in its native West and Central Africa,
as well as in Malaysia and Indonesia. (Britannica)
Elaeis guineensis
Jacq.
The native range
of this species is Tropical Africa. It is a tree and grows primarily in the wet
tropical biome. It is used as animal food, a poison and a medicine, has
environmental uses and social uses and for fuel and food. (Plants of The World Online)
Bahasa Terus Bergerak, KBBI Terus Diperbarui
Masyarakat diimbau untuk memandang KBBI
sebagai kerja ilmiah yang selalu dimutakhirkan mengikuti gerak bahasa. Setiap
pembaruan dilakukan melalui siklus yang jelas: tim redaksi menelusuri bukti
pemakaian dalam berbagai sumber, menilai kecukupan data, menyusun atau
menyempurnakan definisi, lalu menguji ketepatannya melalui penyuntingan
berjenjang serta konsultasi pakar.
Dalam konteks entri “sawit”, masukan
publik ikut memandu penataan entri agar lebih tertib dan tepat secara
konseptual, tanpa mengubah makna dasarnya. Proses ini juga terlihat dari
linimasa kehadiran “sawit” di KBBI sejak Edisi I (1988) hingga Edisi
VI (2023), termasuk perubahan posisi definisi dari “kelapa sawit” ke
“sawit” sebagai entri induk. Sehubungan dengan itu, yang diperbarui bukan
sekadar kata atau entri kamus, melainkan juga cara penyajiannya agar pembaca
menemukan informasi yang sama secara lebih mudah dan konsisten.
Dari sisi ketepatan ilmu hayati,
simpulan pakar botani BRIN menegaskan bahwa pemilihan genus “pohon” dalam
definisi “sawit” dapat dipertanggungjawabkan secara taksonomi dan ekologi dalam
konteks kamus umum. Badan Bahasa juga mencatat adanya pandangan lain dari
sejumlah ahli mengenai pilihan kategori yang tepat. Atas dasar itu, Badan
Bahasa terus membuka ruang dialog dan masukan agar rumusan definisi tepat,
mudah dipahami, serta selaras dengan perkembangan pengetahuan dan pemakaian
bahasa.
Sumber Rujukan:
https://www.oed.com/dictionary/palm_n1?tab=meaning_and_use#32072993
https://www.britannica.com/plant/oil-palm
https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:666802-1
Tim Redaksi KBBI
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Tim Redaksi KBBI
Tim Redaksi KBBI Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah