Perempuan Lebih Tahu Dirinya Sendiri dan Bisa Mengeksplorasi Diri Sendiri: Perbandingan Novel Pegakuan Pariyem dan Jangan Main-Main dengan Kelaminmu

       Banyak penulis laki-laki yang menuliskan tokoh utama perempuan dalam ceritanya. Lebih banyak lagi penulis perempuan yang bercerita tentang dirinya sendiri dan mengangkatnya sebagai tokoh utama. Penulis perempuan sebenarnya sudah bermunculan sejak abad ke-20, tetapi memang kalah populer dengan penulis laki-laki. Saat itu memang masalah emansipasi perempuan di Indonesia belum diangkat. Yang ada ialah Kartini sebagai salah satu perempuan yang memberontak terhadap kungkungan adat yang membelit perempuan. 

Adanya dominasi kaum laki-laki dalam periode sastra Indonesia bukan tanpa sebab. Pada masa sebelum perang tidak banyak pengarang perempuan. Posisi perempuan masih berada di bawah keperkasaan laki-laki. Perempuan dijadikan sebagai warga kelas dua yang terkesan lemah. Perempuan pada zaman dahulu memang selalu kalah dibandingkan dengan laki-laki. Mereka tidak dapat tampil di publik sebebas laki-laki. Budaya patriarki yang sangat kental terus dilestarikan, bahkan sampai dengan saat ini.

Novel Pengakuan Pariyem ditulis oleh pengarang laki-laki, yaitu Linus Suryadi A.G. Tokoh utama, Pariyem, diceritakan hanya bisa menerima. Ia yang hanya menjadi pembantu di sebuah rumah bangsawan hanya bisa menerima keadaan. Selain itu, novel Siti Nurbaya atau Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli muncul pada era Pujangga Baru. Di dalam novel tersebut diceritakan bahwa perempuan hanya menjadi korban patriarki di Indonesia pada masa itu. Karya-karya lain selalu menjadikan perempuan kaum yang lemah, bodoh, tidak berpendidikan, dan tertindas. Walaupun memang kenyataan pada masa itu seperti itu, ada juga penulis, seperti Sutan Takdir dengan karya sastranya yang berjudul Layar Terkembang yang mengangkat tokoh seorang perempuan yang terpelajar, modern, dan  juga seorang pemimpin.

Banyak buku teori sastra yang memberikan contoh-contoh sastra dari pengarang laki-laki. Lalu, di manakah pengarang perempuan saat itu? Pengarang/penulis perempuan sebenarnya ada cukup banyak, mulai dari Marga T., N.H. Dini, kemudian Ayu Utami dan Dee. Seiring perkembangan zaman dan adanya gerakan feminisme memang penulis perempuan bermunculan dan makin populer dengan karya-karyanya. Perkembangan zaman membuat perempuan mulai membuat gerakan dan perubahan. Perempuan pun lebih leluasa berkarya dalam berbagai ranah kehidupan.

Tokoh perempuan yang diciptakan oleh pengarang perempuan juga banyak bermunculan akhir-akhir ini. Pengarang baru, seperti Djenar Maesa Ayu dan Dee merupakan pengarang perempuan yang produktif. Banyak yang menceritakan sosok perempuan sebagai tokoh utama dalam ceritanya, seperti Djenar melalui Nayla dan Jangan Main-Main dengan Kelaminmu. Semua pengarang tersebut adalah perempuan dan bercerita tentang perempuan.

            Kebanyakan kisah yang menceritakan tokoh utama perempuan lebih mengarah pada hal-hal yang berbau seks. Pengarang perempuan seperti hanya berkutat pada seks. Sebuah karangan memang tidak lepas dari latar belakang pengarangnya dan seorang perempuan pasti tahu akan dirinya sendiri.  Pengarang perempuan seperti mengeksplorasi dirinya sendiri dalam hal seksualitas. Semuanya terjebak dalam cerita yang itu-itu saja.

            Pengarang perempuan memang lebih detail dalam penceritaan mengenai dirinya sendiri. Akan tetapi, tema cerita yang lebih mengarah pada seks membuat pembaca mengerutkan dahi. Kemudian, muncul pertanyaan di kepala tentang apakah hanya itu yang bisa diangkat oleh pengarang perempuan? Di luar hal itu, keseluruhan cerita memang menarik untuk dibaca. Tiap penulis juga memiliki ciri khas tersendiri yang menjadikan novel pengarang perempuan patut untuk dibaca meskipun hanya berkutat pada seks.

            Penggambaran tokoh dalam novel Pengakuan Pariyem seolah menyiratkan bahwa tokoh perempuan yang diangkat oleh penulis laki-laki pada masa itu kebanyakan hanya menyoroti perempuan yang tidak bisa apa-apa, bodoh, dan tidak terpelajar. Sementara itu, penggambaran tokoh dalam novel Jangan Main-Main dengan Kelaminmu seolah menyiratkan bahwa tokoh utama perempuan yang diciptakan oleh perempuan sendiri ternyata masih saja disudutkan. Selain itu, ceritanya hanya berkutat pada seks. Citra perempuan terpelajar dan berpendidikan belum ada.

Pada masa itu memang feminisme dianggap tidak sesuai dengan konsep kemajuan zaman. Benarlah bahwa karya sastra merupakan cerminan dari suatu zaman. Tidak ada yang salah dengan perempuan yang menuliskan dirinya sendiri. Perempuan bisa lebih tahu dan bisa mengeksplorasi dirinya sendiri. Sebuah karya sastra bisa lahir dari diri sendiri.

Uma Fajar Utami

Uma Fajar Utami lahir di Yogyakarta dan sekarang bekerja di Balai Bahasa Provinsi Papua.

Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa