Perkuat Pelestarian Bahasa Jawa, BBP Jatim Libatkan 80 Guru dalam Bimtek Guru Utama Gelombang II
Bimtek
ini menjadi bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang
dilaksanakan melalui kolaborasi antara BBP Jatim dengan pemerintah daerah. Pada
hari ini, kegiatan dihadiri pula oleh Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan
Bahasa dan Sastra, Dora Amalia; Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur,
Aries Agung Paewai; Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno
Hardiningtyas; serta Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, Rochmad
Djoko Prakoso.
Kepala BBP Jatim, Puji
Retno Hardiningtyas, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari
program serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan untuk bahasa Madura di
Situbondo dan Bondowoso. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga
praktik langsung dan mengerjakan tugas dari para narasumber sesuai bidang
masing-masing.
“Hari ini adalah Bimtek Bahasa Jawa Gelombang II untuk Kabupaten Sidoarjo, Gresik, dan Kota Surabaya yang diikuti 80 peserta. Setelah kegiatan ini, akan ada pemantauan untuk melihat sejauh mana hasil bimtek yang telah dilaksanakan,” ujar Retno.
Kepala Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan bahwa bahasa daerah
memiliki peran penting sebagai simbol daerah dan identitas masyarakat.
“Menjaga bahasa daerah bukan sekadar menjaga kata-kata, melainkan juga menjaga sejarah dan budaya sebuah daerah,” ujarnya. Aries menilai penggunaan bahasa daerah saat ini perlu diperkuat melalui pendidikan, literasi, serta pemanfaatan teknologi.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia. Dalam sambutannya, Dora menegaskan bahwa bahasa ibu merupakan jati diri bangsa. Oleh karena itu, menjaga bahasa daerah berarti menjaga jati diri bangsa. Ia juga menyampaikan, “Kegiatan ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan juga salah satu tahapan untuk menjalankan revitalisasi bahasa daerah.”
Pada hari pertama, dua
narasumber hadir memberikan materi, yakni Mochammad Taukit dan Welly
Suryandoko. Taukit sebagai narasumber pertama membawakan materi “Membaca dan
Menulis Aksara Jawa” kepada para peserta. Taukit menjelaskan bahwa penulisan
aksara Jawa berbeda dengan menulis menggunakan aksara latin.
“Menulis aksara Jawa harus disesuaikan dengan pengucapan atau pelafalan setiap kata. Meskipun kita menulis bahasa asing, penulisannya harus tetap disesuaikan dengan pengucapannya,” jelas Taukit.
Pada sesi selanjutnya,
Welly Suryandoko menyampaikan materi “Melawak Tunggal” sebagai salah satu
pendekatan kreatif dalam pembelajaran bahasa Jawa. Ia mengajak peserta
memanfaatkan seni pertunjukan untuk menumbuhkan minat siswa terhadap bahasa
daerah. Welly menjelaskan bahwa melawak tunggal itu sama seperti monolog karena
seseorang berbicara sendiri di depan banyak orang (audiens).
“Kekuatan seorang pelaku pelawak tunggal meliputi ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan intonasi suara,” ujar Welly.
Rangkaian
kegiatan hari pertama ditutup setelah materi “Melawak Tunggal” selesai. Para
peserta akan melanjutkan materi pada hari kedua besok, 28 April 2026. Setelah
rangkaian bimtek selesai, BBP Jatim akan melakukan pemantauan kepada peserta
guna melihat sejauh mana hasil bimbingan teknis dapat diterapkan di sekolah
masing-masing. Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru mampu mengimbaskan
pengetahuan yang didapat dan menjadi penggerak utama dalam pelestarian bahasa
Jawa di lingkungan pendidikan dan masyarakat.

.jpeg)