Literasi sebagai Pilar Bangsa Menjadi Fokus Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (UMB Babel) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Peningkatan dan Penguatan Literasi sebagai Pilar Kebijakan Bahasa Nasional” pada Senin, 13 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan kampus UMB Babel dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, serta sivitas akademika dengan antusiasme tinggi.
Kuliah umum tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor UMB Babel, Fadillah Sabri. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. “Literasi tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi kunci dalam membangun pola pikir kritis dan karakter bangsa yang unggul,” ujar Fadillah Sabri.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menumbuhkan budaya literasi yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga kontekstual terhadap dinamika sosial dan perkembangan global. Ia juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup intelektual di lingkungan kampus.
Kegiatan ini menghadirkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
Hafidz Muksin, sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Hafidz Muksin
menekankan bahwa literasi memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung
keberhasilan kebijakan bahasa nasional.
Ia menjelaskan bahwa penguatan literasi tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat luas. “Penguatan literasi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pendidikan formal hingga komunitas,” jelas Hafidz Muksin.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa kebijakan bahasa nasional akan berjalan efektif apabila didukung oleh tingkat literasi masyarakat yang memadai. Kemampuan memahami dan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, menurutnya, menjadi kunci dalam menjaga eksistensi bahasa nasional di tengah arus globalisasi. “Bahasa adalah identitas bangsa. Ketika literasi masyarakat kuat, maka kebijakan bahasa nasional akan lebih mudah diimplementasikan secara efektif,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hafidz juga memaparkan berbagai program strategis yang dijalankan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam rangka meningkatkan literasi masyarakat, termasuk penguatan literasi digital, pengembangan bahan bacaan bermutu, serta pembinaan komunitas literasi di berbagai daerah.
Acara berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang diikuti secara aktif oleh peserta. Sejumlah mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih dalam mengenai implementasi kebijakan bahasa serta tantangan literasi di era digital.
Kuliah umum ini diharapkan tidak hanya menjadi forum akademik semata, tetapi juga mampu mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya literasi sebagai pilar utama dalam pembangunan bangsa. Melalui kegiatan ini, UMB Babel menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan literasi nasional sekaligus berkontribusi dalam pengembangan kebijakan bahasa yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang
tidak hanya cakap dalam berbahasa, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir
kritis, kreatif, serta adaptif dalam menghadapi tantangan zaman. (mun)

