Praktik Baik Literasi dalam Satuan Pendidikan di Pangkalpinang

Praktik Baik Literasi dalam Satuan Pendidikan di Pangkalpinang

Upaya penguatan literasi di satuan pendidikan terus menunjukkan perkembangan positif. Hal ini terlihat dalam kunjungan kerja Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, ke sejumlah sekolah di Pangkalpinang pada Selasa, 14 April 2026. Dua sekolah yang menjadi lokasi kunjungan tersebut adalah SDN 65 Pangkalpinang dan SMA Muhammadiyah Pangkalpinang yang dinilai telah menerapkan praktik baik literasi secara konsisten dan inovatif.

Kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen Badan Bahasa dalam mendorong Penguatan Budaya Literasi di Lingkungan Pendidikan yang sejalan dengan Kebijakan Nasional di Bidang Kebahasaan dan Kesastraan. Dalam agenda tersebut, Hafidz Muksin tidak hanya meninjau secara langsung kegiatan pembelajaran, tetapi juga berdialog dengan guru dan siswa untuk menggali pengalaman serta tantangan dalam mengembangkan literasi di sekolah.

Di SDN 65 Pangkalpinang, suasana literasi tampak hidup melalui berbagai kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif. Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah membaca nyaring yang dilakukan oleh siswa di hadapan teman-temannya dan didampingi oleh guru. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan membaca, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri serta keterampilan berbicara di depan umum. Selain itu, keberadaan pojok baca di kelas dan perpustakaan yang dimanfaatkan secara optimal menjadi bukti bahwa literasi telah menjadi bagian dari keseharian siswa.

Sementara itu, di SMA Muhammadiyah Pangkalpinang, praktik literasi dikembangkan melalui pendekatan yang lebih variatif dan kontekstual. Siswa didorong untuk tidak hanya membaca, tetapi juga menganalisis dan mendiskusikan isi bacaan. Dalam sesi diskusi yang berlangsung, terlihat interaksi aktif antara siswa dan guru yang mencerminkan kemampuan berpikir kritis serta pemahaman mendalam terhadap materi yang dibaca. Guru juga mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam berbagai mata pelajaran sehingga literasi tidak berdiri sendiri, tetapi juga menjadi bagian integral dari proses pembelajaran.

Dalam keterangan yang disampaikan oleh Hafidz Muksin menyampaikan apresiasi terhadap upaya yang telah dilakukan oleh kedua sekolah tersebut. Ia menekankan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan dasar membaca dan menulis, melainkan juga merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter dan daya pikir peserta didik. “Literasi harus menjadi budaya, bukan sekadar program. Ketika literasi sudah menjadi kebiasaan, akan lahir generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif,” ujarnya.

Lebih lanjut ia juga menyoroti pentingnya peran guru sebagai penggerak utama literasi di sekolah. Menurutnya, inovasi dan kreativitas guru dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik sangat menentukan keberhasilan program literasi. Oleh karena itu, dukungan yang berkelanjutan, baik dari pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan praktik baik tersebut.

Kunjungan ini diharapkan tidak hanya menjadi bentuk evaluasi, tetapi juga sarana untuk memperkuat sinergi antara Badan Bahasa dan satuan pendidikan dalam mengembangkan literasi. Praktik baik yang telah berjalan di SDN 65 Pangkalpinang dan SMA Muhammadiyah Pangkalpinang diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain, baik di wilayah Bangka Belitung maupun di tingkat nasional.

Dengan semakin kuatnya budaya literasi di lingkungan pendidikan, diharapkan akan lahir generasi yang tidak hanya cakap dalam membaca dan menulis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi efektif, serta mampu menghadapi tantangan global. Penguatan literasi pada akhirnya menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia maju. (mun)



Sedang Tren

Ingin mengetahui lebih lanjut?

Kunjungi media sosial Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa