Dari Kartini ke Sundari Spirit Kebahasaan pada Bulan Pemberdayaan Perempuan
April 2026 merupakan bulan pemberdayaan perempuan. Pencanangan bulan ini dilakukan dengan spirit pemberdayaan perempuan demi pendidikan bermutu untuk semua.
Spirit itu
bergelora dengan literasi sebagaimana diserukan dalam semangat gerakan Trigatra Bangun Bahasa: Utamakan bahasa Indonesia; lestarikan bahasa
daerah; dan kuasai bahasa asing! Tiga seruan ini digelorakan oleh peserta pencanangan
tersebut pada 1 April 2026.
Melalui momentum Hari Kartini pada tahun ini, ada harapan besar
agar perempuan Indonesia dapat berperan penting sebagai subjek; tak-sekadar
sebagai objek pembangunan. Untuk harapan mulia itu, Raden Ajeng Kartini
dan—berikutnya—Siti Sundari merupakan dua sosok tokoh pejuang di antara kaum
perempuan Jawa yang—dengan spirit kebahasaannya masing-masing—telah menginspirasi
dunia pendidikan, tidak hanya di Indonesia, tetapi dunia global juga, pada hari
ini.
Melalui Pena R.A. Kartini
R.A. Kartini berjuang dengan mengangkat penanya. Ia
mengangkat masalah kesetaraan akses pendidikan yang hingga hari ini masih
menjadi isu global. Kesetaraan gender (gender
equality) merupakan agenda global di badan UNESCO. Hingga 24 Maret 2026, badan
dunia pendidikan ini masih menyimpan data yang menunjukkan fakta bahwa 2/3 dari
739 juta orang dewasa sedunia adalah perempuan yang tak-mampu membaca.
Kondisi literasi kebahasaan pada hari ini dilaporkan memang
lebih baik daripada periode tahun 1979. Pada waktu itu tercatat hanya 68%
penduduk bumi yang memiliki kemampuan baca-tulis. Capaian besar sudah diraih
dalam bidang literasi dengan kenaikan angka itu menjadi 86%. Namun,
keprihatinan dunia masih sangat mendalam. Dengan mengungkap data mutakhir itu,
UNESCO meminta perhatian serius kepada segenap negara anggotanya atas fakta
ketidaksetaraan tersebut dalam akses dan konten pendidikan yang bermutu.
Jauh
sebelum badan PBB itu berteriak mempersoalkan ketidaksetaraan gender, Kartini
sudah bersuara sangat lantang ke panggung dunia. Pada periode akhir abad XIX
hingga awal abad XX, gagasan Kartini yang ditulis kepada sahabat penanya di
negeri Belanda mengundang kekaguman dunia. Salah seorang dari pengagum pemikiran
Kartini ialah tokoh Belanda—J.H. Abendanon (1911)—dengan terbitan bukunya dalam
bahasa Belanda yang kemudian diindonesiakan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang (melalui penerbitan Balai Pustaka,
1938).
Dalam
hal pemberdayaan perempuan itu, suara dunia yang tengah digaungkan oleh UNESCO memperoleh
bisikan jauh sebelumnya dari bumi Nusantara yang berkeindonesiaan. Begitu besar
inspirasi yang diberikan bagi kemanusiaan universal sehingga Indonesia disebut
oleh Yudi Latif (2025) sebagai penopang dunia. Dalam sebuah refleksi yang
mendalam, tentu, tak-berlebihan ketika Yudi Latif pun bertanya, “Apa jadinya
dunia tanpa Indonesia?”
Kepeloporan Siti Sundari
Memang,
Indonesia adalah bangsa pelopor. Kepeloporan Kartini tentu berlandaskan
kekuatan gagasan emansipasi perempuan dari keluarga bangsawan Jawa (di Rembang).
Gerakan emansipasi itu diteruskan oleh Siti Sundari juga dari keluarga
bangsawan Jawa (di Semarang). Dari era Kartini (kelahiran pada 21 April 1879) ke
masa Sundari (kelahiran pada 25 Agustus 1905), berlangsung tranformasi sosial
dalam hal komitmen kebangsaan.
Dengan
komitmen kebangsaan yang terbarukan, hal yang sulit itu dijadikan kebulatan
tekad oleh Sundari untuk menaklukkannya. Ia berkeyakinan penuh akan pentingnya
bahasa asing, yaitu bahasa Belanda, yang telah dikuasai. Demikian pula halnya
dengan bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa, yang tetap dilestarikan. Kepeloporan Sundari
ini membawa spirit keutamaan bahasa Indonesia dalam perintisan jalan pembukanya
pada periode tahun 1928 untuk pembangunan kebahasaan yang pada masa sekarang bergelora
dengan gerakan Trigatra Bangun Bahasa.
Dengan
sangat heroik, Sundari berpidato dalam bahasa Indonesia pada Kongres Perempuan
Indonesia di Yogyakarta (22—25 Desember 1928). Ini hanya berselang dua bulan
setelah peristiwa ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Terjadi perubahan
sosial-kebahasaan yang mendasar dalam waktu singkat. Menurut Yudi Latif (2024),
penggunaan bahasa Indonesia (pertama kali) secara resmi oleh Sundari merupakan “simbol
dari kuatnya komitmen kebangsaan baru”.
Ketika
memulai pidatonya, Sundari memberikan pernyataan tegas yang dikutip oleh Yudi
Latif (2024) dari Proceeding Kongres
Perempuan Indonesia sebagai berikut. ”Sebelum kami memoelai membitjarakan ini,
patoetlah rasanja kalau kami terangkan lebih dahoeloe, mengapa kami tidak
memakai bahasa Belanda atau bahasa Djawa.” Pertanyaan ini dijawab sendiri sebagai berikut.
”Boekan sekali-kali karena kami hendak merendah-rendahkan
bahasa ini [,]
atau mengoerang-ngoerangkan harganja.” […] “Oleh karena jang terseboet inilah,
maka kami sebagai poetri Indonesia jang lahir dipoelau Djawa jang indah ini
berani memakai bahasa Indonesia dimoeka ra’jat kita ini. Boekankah kerapatan
kita kerapatan Indonesia, ditimboel[a]kan oleh poetri Indonesia dan dioentoekkan bagi seloeroeh
kaoem istri dan poetri Indonesia, beserta tanah toempah darah dan bangsanja.”
Mafhum,
Sundari adalah salah seorang tokoh dari perwakilan putri Indonesia yang pada
peristiwa Kongres Pemuda sebelumnya juga hadir dengan tetap menggunakan bahasa
(asing) Belanda. Penggunaan bahasa asing pada saat itu bersifat ”terpaksa”
karena Soegondo Djojopoespito selaku pemimpin Kongres Pemuda pun masih sulit
(tidak/belum mampu) menggunakan bahasa Indonesia: bahasa persatuan yang
diikrarkan oleh para pemuda dengan kebulatan tekad berkeindonesian.
Terdapat
pula sesosok tokoh di balik kepiawaian Sundari dalam hal berbahasa Indonesia
(selain berbahasa [daerah] Jawa dan berbahasa [asing] Belanda). Sosok pemuda itu
ialah M. Yamin. Pada 1926 ketika Kongres Pemuda digelar pertama kalinya, Yamin
masih mengaku bahwa bahasa Indonesia tidak ada, kecuali bahasa Melayu
(Sumatra).
Dari
Kartini ke Sundari, spirit kebahasaan tumbuh dengan makin berdayanya perempuan
Indonesia. Dari sinilah bahasa kebangsaan Indonesia terbentuk seiring dengan
transformasi bahasa Jawa, Melayu, dan sebagainya yang menjadi bahasa daerah.
---MY (22/04/2026)---
Maryanto
Widyabasa Ahli Madya (Penghayat Trigatra Bangun Bahasa) Badan Bahasa, Kemendikdasmen